an old (true?) story yet still worthwhile to remind us the meaning of praying.
= = = = =
Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tiba lah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-ke ncang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.
Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".
Dorr. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing, "Ayo..ayo...cepat..cepat, maju..maju" , begitu teriak mereka.
Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati, "Terima kasih."
Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?".
Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark. Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain. "Aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."
. . . . .
did you get the message, friends?
==================================================================================
Showing posts with label Food For Thought. Show all posts
Showing posts with label Food For Thought. Show all posts
Friday, July 17, 2009
Tuesday, February 24, 2009
pacaran & seks
Ques:
Pa Effendi bisa bantu saya bagaimana bicara soal pacaran dan masalah seks kepada anak remaja saya yang baru SMP?
Ceritanya begini, anak saya ini tidak ngomong sama saya, tetapi dia nanya sama adik perempuan saya, karena mungkin usia mereka tidak terlalu jauh. Lalu adik saya menyampaikannya kepada saya. Anak saya bertanya soal bagaimana cara berpacaran, dan jika ada teman pria yang tertarik apakah langsung diterima sebagai pacar.
Sampai hari ini, saya masih belum bicara banyak tentang pacaran dan seks kepada anak saya. Pikiran saya jadi takut sekarang karena memikirkan yang macam-macam akan terjadi kalau anak saya mulai pacaran. Minta bimbingan Pendeta Effendi akan hal ini. Terima kasih.
Ans:
Kita harus sadar bahwa informasi yang beredar di lingkungan anak remaja kita adalah bukan lagi bagaimana hidup tidak melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan melainkan ajaran tentang "safe sex". Sekolah memang memberikan pendidikan seksual, tetapi cenderung ujungnya premarital sex adalah fakta yang tidak bisa ditolak, maka anak-anak remaja diajarkan bagaimana memakai pengaman dalam hubungan seks. Ditambah lagi peer pressure dari teman-teman remaja yang mentertawakan anak laki yang belum melakukan hubungan seksual. Maka mendengarkan kalimat, "He's such a virgin" bukanlah satu respek dan kebanggaan, tetapi bahan tertawaan.
Di tengah iklim seperti ini dapatkah ibu berdiam diri saja dan "berharap" anak remaja ibu akan bisa melewati high school dengan berhasil sukses menghadapi godaan ini? Tentu tidak! Maka mulailah berbicara tentang seks dengan mereka dan sekarang masih belum terlambat.
Saya akui memang sulit berbicara tentang topik seks kepada orang-orang, dan lebih sulit lagi jika berbicara kepada anak-anak sendiri. Namun patut diperhatikan bahwa berbicara soal seks dengan anak remaja kita, itu bukan soal penyampaian informasi saja. Anak remaja sangat memerlukan kasih, pengertian, trust dan komitmen kita untuk sungguh terlibat dalam kehidupan mereka. Jangan memberi informasi yang salah atau separuh-paruh; jika satu kali saja anak remaja menemukan info yang lain dan berbeda dengan yang kita beri, kita bisa kehilangan trust dari mereka.
Ibu bisa memilih cara apa yang terbaik dan dapat berkomunikasi dengan nyaman soal seks dengan anak remaja ibu, missal: mengajak dia makan bersama lalu berbicara terbuka; beli buku tentang anatomi tubuh dan informasi mengenai seks dan diskusikan dengannya (sambil berikan prinsip yang jelas bahwa jika anak remaja ibu ingin mengetahui tentang seks jangan mendapatkannya lewat pornografi).
Apa saja yang perlu ibu bicara tentang seks dengannya?
Pertama, sangat penting untuk meletakkan seks dalam terang perspektif positif. Jangan sampai kita takut anak kita terlibat dalam premarital sex, maka kita gambarkan seks itu jelek. Dengan jujur katakan bahwa "seks itu indah dan baik, anakku. Itu adalah momen yang begitu indah, nikmat dan penuh bahagia ketika dua orang yang saling mengasihi bersentuhan. Lebih enak dari makanan kesukaanmu. Dan satu hari kelak kamu akan menikmati itu dengan suamimu." Banyak orang tua yang takut bicara blak-blakan begini sebab berpikir nantinya malah anak remajanya tergiur untuk mencoba seks itu... Tidak!! Mengapa?
Karena kita menaruh seks itu dalam kerangka yang jelas: dalam konteks pernikahan. Sebab sia-sialah untuk menyembunyikan keindahan dan kenikmatan seks. Ketika ada seorang gadis duduk di dekat remaja putra, ia tidak dapat menghindarkan diri untuk tidak terangsang secara seksual. Dan ia tahu sensasi apa yang ia alami dari rangsangan seksual ini. Sia-sialah jika anda berusaha menutup-nutupi akan hal ini. Malah jika kita melukiskan seks sebagai hal yang jelek, kita bisa kehilangan rasa trust anak remaja kepada kita.
Kedua, "jatuh cinta" adalah hal yang normal terjadi kepada anak remaja. Kita tidak bisa mencegah perubahan hormonal yang pasti terjadi. Kita tidak bisa mencegah munculnya perasaan ketertarikan kepada lawan jenisnya. Hal yang dapat kita lakukan sebagai orang tua adalah berusaha agar anak remaja kita mengerti dan memiliki konsep relasi persahabatan yang sehat dalam kurun waktu yang panjang.
Jika anak remaja ibu mulai berbicara tentang lawan jenisnya, jangan me-label-nya sebagai "boyfriend"nya. Anak remaja usia 14 tahun atau 15 tahun tidak membutuhkan "waktu berduaan" dengan lawan jenisnya. Itu masih terlalu muda sekali memasuki level secara fisik. Sebab hubungan fisik akan bersifat progresif, sedangkan anak remaja yang berusia 15 tahun, masih memiliki waktu 10 tahun lagi (paling tidak) menuju pernikahan. Tentu terlalu pagi untuk memanaskan makanan yang baru akan dimakan 10 jam lagi, bukan?
Maka sebagai orang tua, kita harus mendorong anak remaja kita untuk memiliki relasi dengan lawan jenis dalam kelompok teman-temannya dan di bawah supervisi orang tua. Saya anjurkan untuk tidak mengizinkan anak remaja usia 14 tahunan untuk pergi berdua-duaan dengan lawan jenisnya.
Saran saya yang terpenting adalah komunikasikan semua ini dengan baik dan jelas, namun penuh pengertian dengan anak remaja ibu. Masa remaja adalah seperti berperahu melewati air yang bergejolak, sebagai orang tua kita harus membimbing mereka untuk bisa melewati, kita tidak boleh lepas tangan membiarkan mereka memutuskan standar bagi diri mereka sendiri. Penting sekali ibu mengkomunikasikan dengan jelas set standar alkitabiah mengenai seks yang benar kepada anak remaja.
Doa saya menyertai ibu agar Tuhan memberi bijaksana.
Tuhan berkati!
_______
Sumber:
Q&A - Radix (GRII Sydney Newsletter, vol. 55)
=================================================================================
Pa Effendi bisa bantu saya bagaimana bicara soal pacaran dan masalah seks kepada anak remaja saya yang baru SMP?
Ceritanya begini, anak saya ini tidak ngomong sama saya, tetapi dia nanya sama adik perempuan saya, karena mungkin usia mereka tidak terlalu jauh. Lalu adik saya menyampaikannya kepada saya. Anak saya bertanya soal bagaimana cara berpacaran, dan jika ada teman pria yang tertarik apakah langsung diterima sebagai pacar.
Sampai hari ini, saya masih belum bicara banyak tentang pacaran dan seks kepada anak saya. Pikiran saya jadi takut sekarang karena memikirkan yang macam-macam akan terjadi kalau anak saya mulai pacaran. Minta bimbingan Pendeta Effendi akan hal ini. Terima kasih.
Ans:
Kita harus sadar bahwa informasi yang beredar di lingkungan anak remaja kita adalah bukan lagi bagaimana hidup tidak melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan melainkan ajaran tentang "safe sex". Sekolah memang memberikan pendidikan seksual, tetapi cenderung ujungnya premarital sex adalah fakta yang tidak bisa ditolak, maka anak-anak remaja diajarkan bagaimana memakai pengaman dalam hubungan seks. Ditambah lagi peer pressure dari teman-teman remaja yang mentertawakan anak laki yang belum melakukan hubungan seksual. Maka mendengarkan kalimat, "He's such a virgin" bukanlah satu respek dan kebanggaan, tetapi bahan tertawaan.
Di tengah iklim seperti ini dapatkah ibu berdiam diri saja dan "berharap" anak remaja ibu akan bisa melewati high school dengan berhasil sukses menghadapi godaan ini? Tentu tidak! Maka mulailah berbicara tentang seks dengan mereka dan sekarang masih belum terlambat.
Saya akui memang sulit berbicara tentang topik seks kepada orang-orang, dan lebih sulit lagi jika berbicara kepada anak-anak sendiri. Namun patut diperhatikan bahwa berbicara soal seks dengan anak remaja kita, itu bukan soal penyampaian informasi saja. Anak remaja sangat memerlukan kasih, pengertian, trust dan komitmen kita untuk sungguh terlibat dalam kehidupan mereka. Jangan memberi informasi yang salah atau separuh-paruh; jika satu kali saja anak remaja menemukan info yang lain dan berbeda dengan yang kita beri, kita bisa kehilangan trust dari mereka.
Ibu bisa memilih cara apa yang terbaik dan dapat berkomunikasi dengan nyaman soal seks dengan anak remaja ibu, missal: mengajak dia makan bersama lalu berbicara terbuka; beli buku tentang anatomi tubuh dan informasi mengenai seks dan diskusikan dengannya (sambil berikan prinsip yang jelas bahwa jika anak remaja ibu ingin mengetahui tentang seks jangan mendapatkannya lewat pornografi).
Apa saja yang perlu ibu bicara tentang seks dengannya?
Pertama, sangat penting untuk meletakkan seks dalam terang perspektif positif. Jangan sampai kita takut anak kita terlibat dalam premarital sex, maka kita gambarkan seks itu jelek. Dengan jujur katakan bahwa "seks itu indah dan baik, anakku. Itu adalah momen yang begitu indah, nikmat dan penuh bahagia ketika dua orang yang saling mengasihi bersentuhan. Lebih enak dari makanan kesukaanmu. Dan satu hari kelak kamu akan menikmati itu dengan suamimu." Banyak orang tua yang takut bicara blak-blakan begini sebab berpikir nantinya malah anak remajanya tergiur untuk mencoba seks itu... Tidak!! Mengapa?
Karena kita menaruh seks itu dalam kerangka yang jelas: dalam konteks pernikahan. Sebab sia-sialah untuk menyembunyikan keindahan dan kenikmatan seks. Ketika ada seorang gadis duduk di dekat remaja putra, ia tidak dapat menghindarkan diri untuk tidak terangsang secara seksual. Dan ia tahu sensasi apa yang ia alami dari rangsangan seksual ini. Sia-sialah jika anda berusaha menutup-nutupi akan hal ini. Malah jika kita melukiskan seks sebagai hal yang jelek, kita bisa kehilangan rasa trust anak remaja kepada kita.
Kedua, "jatuh cinta" adalah hal yang normal terjadi kepada anak remaja. Kita tidak bisa mencegah perubahan hormonal yang pasti terjadi. Kita tidak bisa mencegah munculnya perasaan ketertarikan kepada lawan jenisnya. Hal yang dapat kita lakukan sebagai orang tua adalah berusaha agar anak remaja kita mengerti dan memiliki konsep relasi persahabatan yang sehat dalam kurun waktu yang panjang.
Jika anak remaja ibu mulai berbicara tentang lawan jenisnya, jangan me-label-nya sebagai "boyfriend"nya. Anak remaja usia 14 tahun atau 15 tahun tidak membutuhkan "waktu berduaan" dengan lawan jenisnya. Itu masih terlalu muda sekali memasuki level secara fisik. Sebab hubungan fisik akan bersifat progresif, sedangkan anak remaja yang berusia 15 tahun, masih memiliki waktu 10 tahun lagi (paling tidak) menuju pernikahan. Tentu terlalu pagi untuk memanaskan makanan yang baru akan dimakan 10 jam lagi, bukan?
Maka sebagai orang tua, kita harus mendorong anak remaja kita untuk memiliki relasi dengan lawan jenis dalam kelompok teman-temannya dan di bawah supervisi orang tua. Saya anjurkan untuk tidak mengizinkan anak remaja usia 14 tahunan untuk pergi berdua-duaan dengan lawan jenisnya.
Saran saya yang terpenting adalah komunikasikan semua ini dengan baik dan jelas, namun penuh pengertian dengan anak remaja ibu. Masa remaja adalah seperti berperahu melewati air yang bergejolak, sebagai orang tua kita harus membimbing mereka untuk bisa melewati, kita tidak boleh lepas tangan membiarkan mereka memutuskan standar bagi diri mereka sendiri. Penting sekali ibu mengkomunikasikan dengan jelas set standar alkitabiah mengenai seks yang benar kepada anak remaja.
Doa saya menyertai ibu agar Tuhan memberi bijaksana.
Tuhan berkati!
_______
Sumber:
Q&A - Radix (GRII Sydney Newsletter, vol. 55)
=================================================================================
Labels:
Food For Thought
Friday, November 21, 2008
from many rules to one habit
Reading is like skiing. When done well, when done by an expert, both reading and skiing are graceful, harmonious activities. When done by a beginner, both are awkward, frustrating, and slow.
Learning to ski is one of the most humiliating experiences an adult can undergo (that is one reason to start young). After all, an adult has been walking for a long time; he knows where his feet are; he knows how to put one foot in front of the other in order to get somewhere. But as soon as he puts skis on his feet, it is as though he had to learn to walk all over again. He slips and slides, falls down, has trouble getting up, gets his skis crossed, tumbles again, and generally looks –and feels- like a fool.
Even the best instructor seems at first to be no help. The ease with which the instructor performs actions that he says are simple - but that the student secretly believes are impossible - is almost insulting. How can you remember everything the instructor says you have to remember?
Bend your knees! Look down the hill! Keep your weight on the downhill ski!
Keep your back straight, but nevertheless lean forward! The admonitions seem endless – how can you think about all that and still ski?
The point about skiing, of course, is that you should not be thinking about the separate acts that, together, make a smooth turn or series of linked turns - instead, you should merely be looking ahead of you down the hill, anticipating bumps and other skiers, enjoying the feel of the cold wind on your cheeks, smiling with pleasure at the fluid grace of your body as you speed down the mountain. In other words, you must learn to forget the separate acts in order to perform all of them, and indeed any of them, well. But in order to forget them as separate acts, you have to learn them first as separate acts. Only then can you put them together to become a good skier.
It is the same with reading!
Probably you have been reading for a long time, too, and starting to learn all over again can be humiliating. But it is just as true of reading as it is of skiing that you cannot coalesce a lot of different acts into on one complex, harmonious performance until you become expert at each of them.
You cannot telescope the different parts of the job so that they run into one another and fuse intimately. Each separate act requires your full attention while you are doing it. After you have practiced the parts separately, you can not only do each with greater facility and less attention, but can also gradually put them together into a smoothly running whole.
All of this is common knowledge about learning a complex skill. We say it here merely because we want you to realize that learning to read is at least as complex as learning to ski, or to typewrite, or to play tennis. If you can recall your patience in any other learning experience you have had, you will be more tolerant of instructors who will shortly enumerate a long list of rules for reading.
The person who has had one experience in acquiring a complex skill knows that he need not fear the array of rules (aaahhhh.. keren banget istilahnya) that present themselves at the beginning of something new to be learned. He knows that he does not have to worry about how all the separate acts - in which he must become separately proficient - are going to work together.
The multiplicity of the rules indicates the complexity of the one habit to be formed, not a plurality of distinct habits. The parts coalesce and telescope as each reaches the stage of automatic execution. When all the subordinate acts can be done more or less automatically, you have formed the habit of the whole performance. Then you can think about tackling an expert run you have never skied before, or reading a book that you once thought was too difficult for you.
At the beginning, the learner pays attention to himself and his skill in the separate acts. When the acts have lost their separateness in the skill of the whole performance, the learner can at last pay attention to the goal that the technique he has acquired enables him to reach.
We hope we have encouraged you by the things we have said in these pages. It is hard to learn to read well. Not only is reading (especially analytical reading), a very complex activity-much more complex than skiing; it is also much more of a mental activity. The beginning skier must think of physical acts that he can later forget and perform almost automatically. It is relatively easy to think of and be conscious of physical acts. It is much harder to think of mental acts, as the beginning analytical reader must do; in a sense, hi is thinking about his own thoughts. Most of us are unaccustomed to doing this. Nevertheless, it can be done, and a person who does it cannot help learning to read much better.
a sub-chapter of "How To Read A Book",
by Mortimer J. Adler & Charles Van Doren
=================================================================================
Learning to ski is one of the most humiliating experiences an adult can undergo (that is one reason to start young). After all, an adult has been walking for a long time; he knows where his feet are; he knows how to put one foot in front of the other in order to get somewhere. But as soon as he puts skis on his feet, it is as though he had to learn to walk all over again. He slips and slides, falls down, has trouble getting up, gets his skis crossed, tumbles again, and generally looks –and feels- like a fool.
Even the best instructor seems at first to be no help. The ease with which the instructor performs actions that he says are simple - but that the student secretly believes are impossible - is almost insulting. How can you remember everything the instructor says you have to remember?
Bend your knees! Look down the hill! Keep your weight on the downhill ski!
Keep your back straight, but nevertheless lean forward! The admonitions seem endless – how can you think about all that and still ski?
The point about skiing, of course, is that you should not be thinking about the separate acts that, together, make a smooth turn or series of linked turns - instead, you should merely be looking ahead of you down the hill, anticipating bumps and other skiers, enjoying the feel of the cold wind on your cheeks, smiling with pleasure at the fluid grace of your body as you speed down the mountain. In other words, you must learn to forget the separate acts in order to perform all of them, and indeed any of them, well. But in order to forget them as separate acts, you have to learn them first as separate acts. Only then can you put them together to become a good skier.
It is the same with reading!
Probably you have been reading for a long time, too, and starting to learn all over again can be humiliating. But it is just as true of reading as it is of skiing that you cannot coalesce a lot of different acts into on one complex, harmonious performance until you become expert at each of them.
You cannot telescope the different parts of the job so that they run into one another and fuse intimately. Each separate act requires your full attention while you are doing it. After you have practiced the parts separately, you can not only do each with greater facility and less attention, but can also gradually put them together into a smoothly running whole.
All of this is common knowledge about learning a complex skill. We say it here merely because we want you to realize that learning to read is at least as complex as learning to ski, or to typewrite, or to play tennis. If you can recall your patience in any other learning experience you have had, you will be more tolerant of instructors who will shortly enumerate a long list of rules for reading.
The person who has had one experience in acquiring a complex skill knows that he need not fear the array of rules (aaahhhh.. keren banget istilahnya) that present themselves at the beginning of something new to be learned. He knows that he does not have to worry about how all the separate acts - in which he must become separately proficient - are going to work together.
The multiplicity of the rules indicates the complexity of the one habit to be formed, not a plurality of distinct habits. The parts coalesce and telescope as each reaches the stage of automatic execution. When all the subordinate acts can be done more or less automatically, you have formed the habit of the whole performance. Then you can think about tackling an expert run you have never skied before, or reading a book that you once thought was too difficult for you.
At the beginning, the learner pays attention to himself and his skill in the separate acts. When the acts have lost their separateness in the skill of the whole performance, the learner can at last pay attention to the goal that the technique he has acquired enables him to reach.
We hope we have encouraged you by the things we have said in these pages. It is hard to learn to read well. Not only is reading (especially analytical reading), a very complex activity-much more complex than skiing; it is also much more of a mental activity. The beginning skier must think of physical acts that he can later forget and perform almost automatically. It is relatively easy to think of and be conscious of physical acts. It is much harder to think of mental acts, as the beginning analytical reader must do; in a sense, hi is thinking about his own thoughts. Most of us are unaccustomed to doing this. Nevertheless, it can be done, and a person who does it cannot help learning to read much better.
a sub-chapter of "How To Read A Book",
by Mortimer J. Adler & Charles Van Doren
=================================================================================
Labels:
Food For Thought
Subscribe to:
Comments (Atom)